Pasangan Calon Gubernur dan Wakil Gubernur
Pasangan calon gubernur dan wakil gubernur diminta tidak terlalu menggantungkan harapan dari partai politik (parpol) untuk memenangkan Pemilihan Gubernur (Pilgub) Sulsel Januari 2013.
Sebab, hampir semua partai mengalami keretakan,di mana terdapat beberapa kader yang berbeda pilihan dukungan, atau berseberangan dengan keputusan partainya. Sebut saja Partai Golkar dan Partai Demokrat. Dua partai besar ini bahkan tak luput dari ancaman perpecahan di internal. Padahal, dua partai penguasa tersebut sudah pasti mendukung ketua DPD-nya masing-masing sebagai calon gubernur. Partai Golkar menjadi kekuatan utama duet incumbent Syahrul Yasin Limpo-Agus Arifin Nu’mang (Sayang) jilid II, sedangkan Partai Demokrat menjadi “otak” pemenangan pasangan Ilham Arief Sirajuddin- Aziz Qahhar Mudzakkar (IA).
Pengamat Politik Universitas Hasanuddin (Unhas) Makassar Adi Suryadi Culla menguraikan, perpecahan dukungan di sebagian besar partai hampir terjadi di masingmasing tingkatan pengurus, baik di DPP, provinsi, kabupaten/ kota, maupun pengurus di tingkat kecamatan, dan kelurahan/ desa. “Ini mengindikasikan kalau partai politik sekarang mengalami krisis loyalitas.
Faksi faksi yang ada semakin kental di internal partai. Begitu pula dengan kepemimpinan ketuanya yang tidak mampu menyatukan kader,”papar Adi kepada SINDOdi Makassar,kemarin. Berdasarkan catatan media,Partai Golkar yang mengusung Syahrul-Agus, berpotensi tidak solid di beberapa daerah, terutama di Kabupaten Bone. Hal itu tercermin dari sejumlah pengurus DPD II yang memilih mengundurkan diri dari kepengurusan dan keanggotaan partai, termasuk mengalihkan dukungan ke kandidat lain.
Begitu pula di Makassar yang sebagian besar pengurus DPD II dan pimpinan kecamatannya, selama ini dikenal dekat dengan Ilham Arief Sirajuddin yang tak lain Wali Kota Makassar. Sehingga diprediksi, kekuatan Golkar di ibu kota Sulsel tersebut bakal tidak maksimal. Kondisi yang sama juga akan dialami Partai Demokrat yang menjadi pemenang kedua di Pemilu Legislatif 2009 di Sulsel.Partai yang dirintis Presiden RI Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) ini dipastikan tak solid di Sulsel.
Apalagi, salah satu kader terbaiknya, Andi Nawir Pasinringi memilih maju berpasangan dengan Bupati Sinjai Andi Rudiyanto Asapa melalui Partai Gerindra. Nawir selama ini dikenal memiliki basis pendukung di Kabupaten Pinrang. Selain Golkar dan Demokrat, Partai Gerakan Indonesia Raya (Gerindra) selaku pendukung utama Rudi-Nawir, juga mulai menunjukkan ketidakharmonisan, seperti yang terjadi di Kabupaten Bone. Selain itu, pergerakan kader juga masih belum totalitas untuk memenangkan jagoan partainya itu.
Beberapa partai lain yang meloloskan kadernya di DPRD Sulsel, juga jauh hari sebelumnya sudah mempertontonkan perbedaan pilihan. Seperti di internal Partai Persatuan Pembangunan (PPP), Partai Amanat Nasional (PAN),Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP), Partai Damai Sejahtera (PDS),dan Partai Hati Nurani Rakyat (Hanura). Adi menguraikan, perbedaan pilihan itu banyak dipengaruhi oleh sistem penentuan usungan di partai yang kadang berseberangan dengan pilihan kader di kalangan grassroot. Sehingga, jika keinginannya tidak terpenuhi, maka mereka memilih menyeberang ke kandidat yang diinginkan.
“Saya melihat mekanisme penentuan dukungan di partai itu kurang terbuka dan tidak nyambung. Mungkin karena pengambilan keputusannya tidak melibatkan pengurus kabupaten/ kota, atau provinsi, dan tidak transparan,sehingga membuat kader kecewa,”urainya. Di samping itu, penyebab yang tak kalah penting, yakni ketidaktegasan pengurus pusat atau DPP dalam memberikan sanksi kepada kader yang membelot. Sebab sejauh ini, DPP hanya membiarkan terjadinya perpecahan,tanpa melakukan tindakan yang keras atau warningkepada pengurus dan kader.
Direktur Insert Institut Muhammad Aris memiliki pandangan berbeda.Menurut dia, tidak solidnya partai ke satu pasangan saja, disebabkan kemampuan masing-masing kandidat yang memiliki jaringan di setiap partai.Apalagi, kalau pernah memimpin partai bersangkutan.
“Syahrul-Agus (Sayang), Ilham- Aziz (IA), serta Rudi-Nawir (Garuda’Na) itu memiliki jaringan di masing-masing partai. Jadi,biar partai itu mendukung kandidat tertentu, pasti tetap ada pengurus dan kadernya yang memilih kandidat lain. Ini menandakan bahwa yang maju itu memang orangorang yang sarat pengalaman,” tutur Aris kepada SINDO, kemarin.
Sebab, hampir semua partai mengalami keretakan,di mana terdapat beberapa kader yang berbeda pilihan dukungan, atau berseberangan dengan keputusan partainya. Sebut saja Partai Golkar dan Partai Demokrat. Dua partai besar ini bahkan tak luput dari ancaman perpecahan di internal. Padahal, dua partai penguasa tersebut sudah pasti mendukung ketua DPD-nya masing-masing sebagai calon gubernur. Partai Golkar menjadi kekuatan utama duet incumbent Syahrul Yasin Limpo-Agus Arifin Nu’mang (Sayang) jilid II, sedangkan Partai Demokrat menjadi “otak” pemenangan pasangan Ilham Arief Sirajuddin- Aziz Qahhar Mudzakkar (IA).
Pengamat Politik Universitas Hasanuddin (Unhas) Makassar Adi Suryadi Culla menguraikan, perpecahan dukungan di sebagian besar partai hampir terjadi di masingmasing tingkatan pengurus, baik di DPP, provinsi, kabupaten/ kota, maupun pengurus di tingkat kecamatan, dan kelurahan/ desa. “Ini mengindikasikan kalau partai politik sekarang mengalami krisis loyalitas.
Faksi faksi yang ada semakin kental di internal partai. Begitu pula dengan kepemimpinan ketuanya yang tidak mampu menyatukan kader,”papar Adi kepada SINDOdi Makassar,kemarin. Berdasarkan catatan media,Partai Golkar yang mengusung Syahrul-Agus, berpotensi tidak solid di beberapa daerah, terutama di Kabupaten Bone. Hal itu tercermin dari sejumlah pengurus DPD II yang memilih mengundurkan diri dari kepengurusan dan keanggotaan partai, termasuk mengalihkan dukungan ke kandidat lain.
Begitu pula di Makassar yang sebagian besar pengurus DPD II dan pimpinan kecamatannya, selama ini dikenal dekat dengan Ilham Arief Sirajuddin yang tak lain Wali Kota Makassar. Sehingga diprediksi, kekuatan Golkar di ibu kota Sulsel tersebut bakal tidak maksimal. Kondisi yang sama juga akan dialami Partai Demokrat yang menjadi pemenang kedua di Pemilu Legislatif 2009 di Sulsel.Partai yang dirintis Presiden RI Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) ini dipastikan tak solid di Sulsel.
Apalagi, salah satu kader terbaiknya, Andi Nawir Pasinringi memilih maju berpasangan dengan Bupati Sinjai Andi Rudiyanto Asapa melalui Partai Gerindra. Nawir selama ini dikenal memiliki basis pendukung di Kabupaten Pinrang. Selain Golkar dan Demokrat, Partai Gerakan Indonesia Raya (Gerindra) selaku pendukung utama Rudi-Nawir, juga mulai menunjukkan ketidakharmonisan, seperti yang terjadi di Kabupaten Bone. Selain itu, pergerakan kader juga masih belum totalitas untuk memenangkan jagoan partainya itu.
Beberapa partai lain yang meloloskan kadernya di DPRD Sulsel, juga jauh hari sebelumnya sudah mempertontonkan perbedaan pilihan. Seperti di internal Partai Persatuan Pembangunan (PPP), Partai Amanat Nasional (PAN),Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP), Partai Damai Sejahtera (PDS),dan Partai Hati Nurani Rakyat (Hanura). Adi menguraikan, perbedaan pilihan itu banyak dipengaruhi oleh sistem penentuan usungan di partai yang kadang berseberangan dengan pilihan kader di kalangan grassroot. Sehingga, jika keinginannya tidak terpenuhi, maka mereka memilih menyeberang ke kandidat yang diinginkan.
“Saya melihat mekanisme penentuan dukungan di partai itu kurang terbuka dan tidak nyambung. Mungkin karena pengambilan keputusannya tidak melibatkan pengurus kabupaten/ kota, atau provinsi, dan tidak transparan,sehingga membuat kader kecewa,”urainya. Di samping itu, penyebab yang tak kalah penting, yakni ketidaktegasan pengurus pusat atau DPP dalam memberikan sanksi kepada kader yang membelot. Sebab sejauh ini, DPP hanya membiarkan terjadinya perpecahan,tanpa melakukan tindakan yang keras atau warningkepada pengurus dan kader.
Direktur Insert Institut Muhammad Aris memiliki pandangan berbeda.Menurut dia, tidak solidnya partai ke satu pasangan saja, disebabkan kemampuan masing-masing kandidat yang memiliki jaringan di setiap partai.Apalagi, kalau pernah memimpin partai bersangkutan.
“Syahrul-Agus (Sayang), Ilham- Aziz (IA), serta Rudi-Nawir (Garuda’Na) itu memiliki jaringan di masing-masing partai. Jadi,biar partai itu mendukung kandidat tertentu, pasti tetap ada pengurus dan kadernya yang memilih kandidat lain. Ini menandakan bahwa yang maju itu memang orangorang yang sarat pengalaman,” tutur Aris kepada SINDO, kemarin.